Peluang Nilai Tambah Kecerdasan Buatan bagi Perekonomian Domestik

Pemerintah memproyeksikan kontribusi industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian nasional mampu mencapai kisaran US$360 miliar hingga US$400 miliar, setara dengan Rp 7.202 triliun pada 2030 mendatang. Skala ekonomi digital nasional yang saat ini bernilai antara US$100 miliar sampai US$130 miliar memosisikan pasar domestik sebagai yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa akselerasi pemanfaatan teknologi tersebut membutuhkan langkah konkret di lapangan. Implementasi AI ditargetkan mampu meningkatkan efisiensi industri, memberdayakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta membuka lowongan kerja bernilai tambah tinggi bagi masyarakat.

Empat Fokus Utama Menuju Kedaulatan AI

Dalam mewujudkan kedaulatan AI nasional, pemerintah menyusun empat agenda prioritas:

  • Ketahanan Energi dan Infrastruktur Digital: Kebutuhan daya komputasi pusat data yang saat ini berada di level 0,45 GW hingga 0,58 GW akan ditopang oleh rencana penambahan pasokan listrik sebesar 70 gigawatt (GW) lewat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, disertai target 100 gigawatt-peak (GWp) dari instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
  • Pengembangan Kapasitas Sumber Daya Manusia: Target pemenuhan 9 juta tenaga terampil digital pada 2030 didorong lewat stimulus Super Tax Deduction hingga 200 persen untuk pelatihan vokasi serta program beasiswa khusus. Selain itu, kolaborasi antara Danantara dan Arm diarahkan guna mencetak 15.000 perancang cip semikonduktor dalam tempo tiga tahun.
  • Percepatan Pemanfaatan di Sektor Strategis: Integrasi sistem berbasis AI difokuskan pada rantai pasok manufaktur, administrasi perizinan Online Single Submission (OSS), logistik, perpajakan, dan fasilitas kesehatan. Pemanfaatan ini bertumpu pada 229 juta pemakai internet serta 22 juta UMKM yang telah terhubung ke ekosistem daring, dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sebagai pusat inkubasi riset.
  • Penguatan Tata Kelola serta Kerja Sama Lintas Negara: Keikutsertaan sebagai salah satu pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) diproyeksikan membuka akses modal baru sekitar US$8 miliar hingga US$12 miliar. Kemitraan bilateral juga diperkuat lewat inisiatif Project NUSA bersama Singapura guna memastikan adopsi teknologi yang aman.

Peluncuran Inisiatif Praktis Berbasis Bahasa Nasional

Sebagai instrumen pendukung ekosistem, serangkaian program telah digulirkan, mencakup platform AI.ID, KORIKA Claw, KORIKA Token, hingga inisiatif Project NUSA. Program-program ini dirancang untuk menghadirkan perangkat kecerdasan buatan berbasis bahasa Indonesia yang dapat diakses luas oleh publik.

Pemerintah menekankan bahwa tata kelola implementasi teknologi digital wajib mengedepankan aspek keandalan sistem, perlindungan masyarakat, akuntabilitas, serta kepastian hukum demi mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi jangka panjang menuju target Indonesia Emas 2045.