Pondasi Baru untuk Daya Saing Nasional
Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya penguatan sektor teknologi sebagai pendorong utama ekspansi ekonomi nasional. Langkah ini dinilai esensial guna memperkuat basis industri lokal, mengerek efisiensi produksi, serta menjaga daya saing di tengah dinamika perdagangan global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa integrasi penguasaan teknologi mutakhir, industri bernilai tambah tinggi, dan ketersediaan tenaga kerja terampil menjadi penentu keberlanjutan kinerja ekonomi ke depan. Pada paruh pertama 2026, laju pertumbuhan domestik tercatat mencapai 5,45 persen secara tahunan, ditopang stabilitas konsumsi rumah tangga dan aktivitas penanaman modal. Sementara itu, tingkat inflasi tahunan per September 2026 berada pada posisi 3,28 persen.
Optimalisasi Hilirisasi Komoditas Strategis
Selain penguatan pasar domestik, kebijakan hilirisasi terus dipacu untuk menaikkan nilai jual produk mentah. Sinergi antara adopsi mesin industri dan keterkaitan rantai pasok memungkinkan komoditas lokal diproses menjadi barang bernilai jual lebih tinggi sebelum diekspor.
Hasil dari strategi pengolahan tersebut tecermin pada lonjakan nilai pengapalan produk mineral dan logam, yang merangkak dari kisaran US$1,4 miliar pada 2016 menjadi US$35 miliar pada 2025. Dari sektor perkebunan, diversifikasi produk turunan kelapa sawit berkembang pesat dari 54 menjadi 208 varian olahan, beriringan dengan dorongan peningkatan ekspor kelapa yang ditargetkan tumbuh 50 persen.
Pengembangan Semikonduktor dan Ekosistem Digital
Sebagai pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berupaya memposisikan diri tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga perancang dan penyedia solusi bernilai tambah. Keterhubungan antara pusat data, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), industri semikonduktor, dan talenta lokal dinilai semakin vital dalam memetakan arah industri masa depan.
Pemerintah telah menjalin kemitraan strategis dengan ARM Holdings asal Inggris untuk mengakselerasi kapabilitas perancangan cip semikonduktor nasional serta melatih tenaga kerja terspesialisasi. Inisiatif ini ditargetkan membuka peluang yang lebih besar bagi industri domestik untuk terintegrasi dalam rantai pasok teknologi global.
Pada tataran multilateral, Indonesia turut menjadi salah satu anggota pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) guna merumuskan tata kelola dan kolaborasi riset AI. Di tingkat regional, kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (kerangka kerja integrasi ekonomi digital kawasan Asia Tenggara) atau DEFA diharapkan memperluas ruang gerak bagi korporasi dan tenaga kerja lokal di pasar ASEAN.
Penguatan SDM dan Transisi Energi Hijau
Transformasi industri digital menuntut kesiapan angkatan kerja yang adaptif. Berbagai skema pelatihan telah disiapkan, mencakup pertukaran tenaga terampil dengan Singapura, pembinaan ekosistem perusahaan rintisan, beasiswa keahlian teknologi, serta pemberian fasilitas Super Tax Deduction (insentif pengurangan pajak penghasilan bruto bagi korporasi yang menyelenggarakan vokasi atau riset) hingga 200 persen.
Di samping digitalisasi, transisi menuju energi bersih ditetapkan sebagai pilar penggerak ekonomi berikutnya. Menghadapi kenaikan konsumsi daya pada 2030, target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dipatok hingga kapasitas 100 gigawatt, yang dibarengi penerapan sistem penyimpanan energi berbasis baterai guna menjamin stabilitas pasokan secara berkelanjutan.