Kekayaan Liu Debing di Tengah Industri Kecerdasan Buatan
Industri kecerdasan buatan (AI) yang berkembang pesat telah melahirkan sejumlah konglomerat baru, termasuk Liu Debing. Ia adalah pendiri sekaligus Chairman Knowledge Atlas Technology, yang lebih dikenal sebagai Zhipu AI.
Menurut data Forbes pada Minggu, 12 Juli, kekayaan Liu Debing mencapai US$26 miliar, atau sekitar Rp470,09 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.080 per dolar AS. Jumlah kekayaan ini menempatkannya di posisi ke-93 dalam daftar orang terkaya di dunia.
Latar Belakang dan Pendidikan
Liu Debing lahir di Tiongkok pada tahun 1975. Informasi mengenai latar belakang keluarga dan masa kecilnya tidak banyak dipublikasikan. Berdasarkan catatan Bloomberg, Liu meraih gelar sarjana ilmu komputer dari Universitas Beijing Jiaotong pada tahun 1997. Ia kemudian melanjutkan studi di bidang yang sama dan memperoleh gelar doktor dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok pada tahun 2007. Setelah itu, Liu bekerja di Institut Teknologi Beijing selama lima tahun sebelum menjadi insinyur senior di Universitas Tsinghua.
Pendirian dan Perkembangan Zhipu AI
Pada Juni 2019, Liu Debing bersama rekan-rekan penelitinya di Universitas Tsinghua, Tang Jie dan Li Juanzi, mendirikan Zhipu AI. Tujuan awal pendirian perusahaan ini adalah untuk mengkomersialkan aset komputasi yang dimiliki oleh universitas tempat mereka bekerja.
Zhipu AI berhasil menarik perhatian investor teknologi terkemuka di Tiongkok, termasuk Alibaba dan Tencent. Dalam mengembangkan model AI perusahaannya, Liu mengedepankan kolaborasi, memungkinkan model tersebut dapat diakses oleh berbagai pihak. Perusahaan ini, dengan layanan Z.ai-nya, sering disebut sebagai pesaing OpenAI, pengembang ChatGPT.
Tantangan dan Ekspansi Global
Pada awal 2025, Pemerintah Amerika Serikat secara resmi memasukkan Zhipu AI ke dalam daftar hitam perdagangan dengan alasan keamanan nasional. Gedung Putih menuding Zhipu AI memiliki peran dalam kemajuan militer Tiongkok melalui pengembangan cip dan penelitian AI tingkat lanjut.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, Liu berhasil membawa Zhipu AI melantai di bursa saham Hong Kong pada 8 Januari 2026. Dalam penawaran umum perdana tersebut, perusahaan berhasil menghimpun US$560 juta dengan menjual 37,4 juta saham, yang turut menjadikan Liu sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Sebagian besar dana tersebut, menurut laporan Forbes, dialokasikan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan.
Pada bulan Juli 2026, perusahaan kembali mendapatkan suntikan dana sebesar US$4 miliar melalui penjualan saham sekunder di Bursa Efek Hong Kong. Mengutip Reuters pada Rabu, 8 Juli, Zhipu AI berencana menggunakan hasil penjualan saham ini untuk penelitian dan pengembangan, termasuk perekrutan, peningkatan kapasitas komputasi dan layanan teknis, serta ekspansi bisnis dan beragam investasi strategis.
Inovasi Teknologi dan Dampak Pasar
Di bawah kepemimpinan Liu, Zhipu AI terus mengembangkan teknologinya. Terbaru, pada Juni 2026, perusahaan meluncurkan model berbasis open source GLM 5.2. Pembaruan model ini disebut-sebut berhasil melampaui model-model serupa lainnya. Peluncuran ini menimbulkan kehebohan di Silicon Valley, pusat industri teknologi dan inovasi global di San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Kehebohan peluncurannya bahkan digambarkan mirip dengan peluncuran DeepSeek tahun sebelumnya.
Dengan model open source, GLM 5.2 dapat diunduh, disesuaikan, dan dijalankan langsung di server internal perusahaan secara gratis. Model ini disebut memiliki performa yang mumpuni dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan pesaingnya dari negara Barat.
Setelah peluncuran GLM 5.2, nilai kapitalisasi pasar perusahaan sempat menembus US$128 miliar (Rp2.314,3 triliun). Saat ini, nilai kapitalisasi pasar perusahaan berkisar US$93 miliar (Rp1.691,49 triliun).
Kehidupan Pribadi yang Tertutup
Di kalangan media, Liu Debing dikenal sebagai sosok konglomerat yang jauh dari sorotan. Tidak banyak informasi mengenai kehidupan pribadi dan keluarganya yang dipublikasikan.